BATAM (Kemenag) β Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam, Dr. H. Budi Dermawan, S.Ag., M.Sy., secara resmi membuka kegiatan Capacity Building bagi Penyuluh Agama se-Kota Batam pada Selasa, 3 November 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kota Batam ini digelar bekerja sama dengan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Kepulauan Riau Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri.
Turut mendampingi Kakankemenag dalam pembukaan acara tersebut, Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Kemenag Kota Batam, Resdin Efendi Pasaribu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kasi Urakris, Esther Sri Liasna , Ketua Pd Ipari Kota Batam, H. Mardianto beserta jajaran pengurus dan anggota Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kota Batam.

Kegiatan capacity building ini dilaksanakan sebagai langkah strategis dalam penguatan kapasitas para penyuluh agama sekaligus memperkokoh upaya pencegahan paham ekstremisme dan terorisme di wilayah Kota Batam.
Dalam arahannya saat membuka kegiatan, Kakankemenag Kota Batam Dr. H. Budi Dermawan, S.Ag., M.Sy. menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi yang sangat strategis di tengah masyarakat sebagai garda terdepan penjaga moderasi beragama.

"Penyuluh agama bukan hanya sekadar menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi simpul utama dalam merawat kerukunan umat. Melalui kegiatan capacity building bersama Densus 88 ini, kita ingin membekali para penyuluh dengan wawasan yang kuat agar mampu mendeteksi dini serta membentengi masyarakat dari pengaruh paham ekstremisme dan terorisme di Kota Batam," ujar Budi Dermawan.
Sementara itu, Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Kepri Densus 88 AT Polri, AKBP Maslikan, S.Sos., M.Si. yang hadir sebagai narasumber utama menekankan pentingnya peran penyuluh agama dalam menjaga situasi keamanan yang sudah kondusif saat ini.
"Keamanan kita betul-betul harus dipertahankan. Sejak tahun 2023, Indonesia baru bisa mencapai zero attack. Bagaimana kita bisa mempertahankannya? Syarat utamanya adalah dengan moderasi beragama," tegas AKBP Maslikan.
Ia juga mengingatkan pergeseran fenomena radikalisme di era digital saat ini yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi dari para penyuluh agama.

"Fenomena radikal sekarang berbasis ideologi dan individu, yang kian diresahkan dengan adanya digital ideologi. Penyebaran radikalisme tidak lagi harus melalui tatap muka secara langsung, tetapi bisa merasuk melalui media digital dan tulisan-tulisan di dunia maya," tambahnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan seluruh Penyuluh Agama yang tergabung dalam IPARI Kota Batam semakin siap, waspada, dan proaktif dalam menyuarakan narasi keagamaan yang moderat, sejuk, serta membentengi masyarakat dari paparan paham ekstrem di era digital demi terwujudnya Kota Batam yang aman dan damai.

























































