
Menjemput Bahagia, Merajut Harmoni: BimWin CaTin KUA Lubuk Baja Tanamkan Nilai Rahasia Samawa
Lubuk Baja, 24 Juni 2025 – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, sembilan pasang calon pengantin duduk bersisian dalam ruang sederhana yang hangat dengan semangat dan harapan. Mereka bukan sekadar menanti hari istimewa, tapi sedang belajar menyiapkan fondasi yang lebih kokoh dari sekadar pesta pernikahan.
KUA Kecamatan Lubuk Baja kembali menggelar Bimbingan Perkawinan (BimWin) bagi Calon Pengantin (CaTin), sebuah program inspiratif dari Kementerian Agama yang tak hanya mengajarkan cara membina rumah tangga, tetapi juga membuka mata dan hati tentang makna cinta, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.
Dengan tema “Rahasia Samawa: Rukun antar Sesama Tetangga,” kegiatan ini mengusung pesan mendalam: bahwa keluarga harmonis tidak lahir di ruang sempit rumah tangga semata, tetapi tumbuh subur dalam lingkungan yang damai dan saling menjaga.
Pemateri berasal dari unsur pegawai profesional KUA Lubuk Baja, yang tak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membagikan pengalaman dan hikmah dari lapangan. Sesi demi sesi disampaikan dengan pendekatan hangat, dialogis, dan menyentuh.
Salah satu CaTin mengungkapkan, “Saya pikir awalnya ini hanya pelatihan biasa. Tapi ternyata, kami diajak merenung tentang makna menjadi pasangan, tetangga yang baik, dan bagian dari masyarakat. Rasanya seperti diberi bekal jiwa.”
Sementara itu, Kepala KUA Lubuk Baja menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya formalitas, tapi bentuk nyata komitmen negara dalam membentuk keluarga tangguh. “Kami ingin para calon pengantin tak hanya sah secara hukum, tetapi juga siap lahir batin, dan sadar akan tanggung jawab sosial dalam membangun peradaban cinta yang lebih luas,” ujarnya penuh semangat.
Kegiatan ini menjadi oase bagi banyak pasangan muda yang kerap hanyut dalam romantisme, namun abai pada realitas kehidupan pernikahan yang penuh dinamika. Dengan bekal nilai-nilai Islami, kearifan lokal, dan semangat hidup rukun, sembilan pasang CaTin ini kini melangkah dengan tekad baru: menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah yang menginspirasi lingkungan sekitarnya.
Karena sesungguhnya, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua hati. Ia adalah awal perjalanan menciptakan dunia yang lebih damai—dimulai dari rumah, lalu menjalar ke tetangga, masyarakat, dan semesta. (Humas Gesit)