
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, H. Zulkarnain Umar, khutbah jum?at perdana di masjid Baiturrahman Sekupang setelah ?2 bulan tutup
Batam (Kemenag) --- Takmir Masjid Raya BaiturrahmaN kembali mengoperasionalkan masjid setelah ±2 bulan tutup untuk pelaksanaan salat Jumat dan salat fardu secara berjamaah guna memperlambat penyebaran pandemi Covid-19, Selasa (5/6).
Berdasarkan pantauan Tim Humas Kemenag Batam, masjid yang berada di Wilayah Kecamatan Sekupang ini telah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 seperti dengan disediakannya tempat cuci tangan atau handsanitizer, melakukan pemeriksaan suhu tubuh, jemaah harus menggunakan masker, membawa sajadah sendiri dan mengatur jarak atau saf dalam salat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Zulkarnain Umar, yang juga selaku Ketua 3 (tiga) bagian ibadah, dalam khutbah jum’at perdananya di masjid Baiturrahman setelah ±2 bulan tutup, kembali mengajak jemaah untuk senantiasa memaksimalkan ikhtiar dalam menghadapi bencana wabah pandemi covid-19.
“Islam tidaklah sekedar mengajarkan umatnya untuk berpasrah atau tawakal dengan menyerahkan urusan kepada Allah, namun konsep ketawakalan dalam Islam lebih menekankan pada tindakan aktif untuk mencari berbagai solusi dalam menghadapi bencana atau musibah,”ucapnya.
Ketawakalan aktif dalam bencana mensyaratkan adanya usaha sungguh-sungguh yang disebut dengan ikhtiar. Ikhtiar dibagi dua yaitu ikhtiar lahir dan ikhtiar bathin. Ikhtiar lahir adalah setiap tindakan diupayakan melalui usaha-usaha secara fisik semisal melakukan proses pencegahan dan tindakan tindakan preventif lainnya atas suatu wabah yang terjadi. Sementara ikhtiar batin secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu berdoa dan tawakal. Ikhtiar lahir haruslah lebih didahulukan daripada hanya sekedar ikhtiar batin sekalipun ikhtiar batin mampu lebih menenangkan seseorang sehingga tidak salah jalan dalam melakukan ikhtiar lahir. Artinya, kedua jenis ikhtiar ini harus dilakukan secara bersamaan, terlebih khususnya sebagai sebuah tindakan dalam menghadapi wabah. Maka dari itu, di saat terjadi sebuah wabah maka tugas kita berikhtiar agar dapat menemukan jalan keluar untuk terhindar dari bencana, seperti halnya yang terjadi saati ini dengan adanya wabah covid-19, ungkapnya.
Perspektif teologis Islam amatlah seimbang dalam mengarahkan sikap manusia dalam menghadapi bencana yaitu dengan menganjurkan untuk bersabar dan bertawakkal, namun pula mendorong kita untuk bersikap realistik atas bencana melalui upaya menghindarinya dengan berupaya menemukan jalan keluar atas suatu wabah atau bencana.
Selanjutnya, Zulkarnain Umar, menjelaskan bahwa dalam ajaran agama Islam ada lima tujuan pokok hukum Islam yang harus dijaga keberlangsungannya yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yakni, memelihara agama (hifdzud diin), memelihara jiwa (hifdzun nafs), memelihara keturunan (hifdzun nasl), memelihara harta (hifdzul maal), memelihara akal (hifdzul aql).
Untuk itu, mari kita kembalikan kepada diri masing-masing. Mungkin wabah ini datang karena kesalahan manusia itu sendiri. Jadi, tidak perlu saling menyalahkan dan mencari kambing hitam.
“Mari bermuhasabah. Jadikan wabah pandemi Covid-19 ini sebuah momentum untuk berfastabiqul khairat untuk menjadi manusia yang terbaik,”imbuh Zulkarnain Umar. (bad70/Y).