Batam (Kemenag) — Program Mimbar Agama Hindu kembali menyapa pendengar setia melalui siaran RRI Pro 1 Batam pada Selasa, 29 September 2026. Menghadirkan Katmiartik dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam sebagai narasumber, acara ini mengangkat tema "Paras Paros Salunglung: Merajut Harmoni Sosial Lewat Konsep Menyama Braya".

Dipandu oleh host I Gusti Ngurah Swimbawa, dialog interaktif ini mengupas tuntas nilai-nilai kearifan lokal yang sarat makna persaudaraan. Mengawali jalannya perbincangan, I Gusti Ngurah Swimbawa sempat menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

"Di tengah dinamika masyarakat kita yang beragam saat ini, konsep kebersamaan dan persaudaraan sejati menjadi kunci utama untuk merawat kerukunan. Mari kita bedah bersama, bagaimana filosofi leluhur kita relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di Batam," ujar Swimbawa memandu jalannya dialog.

Menanggapi hal tersebut, Katmiartik menjelaskan bahwa Menyama Braya merupakan pandangan hidup luhur yang memposisikan orang lain sebagai saudara sendiri, tanpa memandang latar belakang. Konsep ini sejalan dengan ajaran Tat Tvam Asi dalam kitab suci Weda, yang bermakna "Aku adalah Engkau" atau "Engkau adalah aku".

"Ketika kita melihat orang lain menderita, sejatinya ada bagian dari diri kita yang ikut merasakannya. Sebaliknya, ketika kita berbuat baik kepada sesama, kita sedang membahagiakan diri kita sendiri," ungkap Katmiartik.

Tiga Pilar Utama Merajut Harmoni

Landasan Menyama Braya semakin diperindah oleh filosofi Paras Paros Salunglung, yang mengandung makna saling mengisi dan saling mengingatkan dalam kebaikan (salunglung sabayantaka). Dalam filosofi ini, terdapat tiga pilar utama warisan leluhur yang menjadi fondasi hubungan antarsesama:

Asah: Saling mengasah diri, saling belajar, dan berbagi pengetahuan guna mencerdaskan akal budi.

Asih: Saling mengasihi serta menumbuhkan rasa cinta kasih (prema) yang tulus tanpa pamrih kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Asuh: Saling mengasuh, membimbing, melindungi pihak yang lemah, serta merangkul mereka yang sedang berada dalam kesulitan.

Ketiga pilar tersebut dinilai sebagai resep utama para leluhur dalam merajut harmoni sosial yang kokoh, bahkan jauh sebelum era modern mengenal istilah toleransi dan inklusivitas. Melalui siaran di RRI Pro 1 Batam ini, Kemenag Batam berharap nilai-nilai luhur Menyama Braya dapat terus menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menjaga kedamaian dan kerukunan bersama.