Batam (Kemenag) – Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Lilik Widyawati, kembali menyapa umat se-Dharma melalui siaran Mimbar Agama Hindu yang mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Batam.Selasa, 8/9/2026.

Pada sesi siaran kali ini, Lilik bertindak sebagai pemandu acara (host) dengan menghadirkan narasumber I Gusti Ngurah Swimbawa yang membawakan materi bertajuk "Menjalin Kasih Sayang dan Keseimbangan Melalui Tumpek Kandang". 

Dalam pembukaannya, Lilik Widyawati menyampaikan pujian dan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas rahmat dan asung kertha wara nugraha-Nya sehingga program penyiaran Mimbar Agama Hindu dapat konsisten terlaksana sebagai media edukasi, pembinaan moral, serta pemantapan kualitas keimanan umat di Kota Batam dan sekitarnya

Makna Ekologis dan Filosofis Tumpek Kandang

Narasumber I Gusti Ngurah Swimbawa memaparkan bahwa dalam kalender Bali, setiap 210 hari sekali (tepatnya pada hari Saniscara Kliwon Wuku Uye), umat Hindu merayakan hari suci Hari Raya Tumpek Kandang atau yang juga dikenal sebagai Tumpek Uye. Meskipun secara awam sering dipahami sebagai perayaan atau pengupakaraan bagi hewan ternak dan binatang peliharaan, hakikat teologis dan filosofinya mengandung pesan ekologi, belas kasih (ahimsa), serta pemeliharaan keseimbangan alam

"Tumpek Kandang bukan sekadar ritual menyembah fisik hewan, melainkan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati (pelindung dan penguasa semua makhluk bernyawa) serta Bhatara Danu (penguasa pemelihara kehidupan). Hewan adalah cerminan karya cipta Tuhan yang melengkapi rantai kehidupan manusia," jelas I Gusti Ngurah Swimbawa dalam siaran tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa perayaan ini merupakan wujud penerapan nyata ajaran Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan (Palemahan) dan sesama makhluk hidup. Melalui ajaran Ahimsa (tanpa kekerasan) dan Metri (kasih sayang), umat diingatkan akan filosofi Tattwam Asi ("Aku adalah engkau"), bahwa percikan jiwa (atma) pada hewan berasal dari sumber ilahi yang sama dengan manusia

Selain berdimensi ekologis pada alam semesta (Bhuana Agung), Tumpek Kandang memiliki pesan spiritual yang mendalam bagi diri manusia sendiri (Bhuana Alit). Kata "Kandang" melambangkan tubuh atau pikiran manusia yang kerap menjadi 'kandang' bagi sifat-sifat kebinatangan seperti Sad Ripu (enam musuh dalam diri: kemarahan, kerakusan, keirian, dan keserakahan) Perayaan ini mengedukasi umat untuk menjinakkan watak yang kasar dan impulsif menjadi sifat-sifat kerohanian yang penuh cinta kasih (Daivi Sampad)


Acara siaran Mimbar Agama Hindu ini diakhiri dengan pesan ajakan moral kepada seluruh masyarakat dan umat Hindu di Kota Batam agar momentum Tumpek Kandang dijadikan wujud komitmen nyata dalam menjaga kelestarian satwa, merawat hewan peliharaan secara layak, serta mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan bersama