BATAM ( Kemenag ) — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam kembali mengudara dalam siaran siaran rutin Mimbar Agama Hindu di RRI Pro 1 Batam pada Selasa, 4 Agustus 2026. Program kali ini menghadirkan Lilik Widyawati sebagai narasumber, dengan didampingi oleh I Gusti Ngurah Swimbawa sebagai host. 

Mengangkat materi bertajuk "The Power of Sisa Dapur: Mengelola Sendiri Sampah", siaran ini berfokus pada pentingnya kesadaran lingkungan yang dimulai dari area domestik atau rumah tangga. Dalam pemaparannya, Lilik Widyawati menekankan bahwa sisa bahan dapur seperti kulit buah, potongan sayur, hingga sisa makanan seharusnya tidak dianggap sekadar limbah busuk yang langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Lilik menjelaskan bahwa di wilayah kota kepulauan seperti Batam yang memiliki keterbatasan lahan TPA, penumpukan sampah organik anaerobik berpotensi menghasilkan gas metana (CH_4) yang memperparah pemanasan global. 

Oleh karena itu, pengelolaan sampah organik mandiri dipandang sebagai bentuk pengamalan ajaran agama Hindu secara nyata. Landasan ini merujuk pada konsep ekologi Atharvaveda—yang memandang bumi sebagai Ibu Pertiwi (Mātā bhūmiḥ putro ahaṁ pṛthivyāḥ)—serta implementasi nilai Tri Hita Karana (khususnya unsur Palemahan) dan ajaran Bhagavadgita tentang siklus Yadnya. 

Dalam sesi praktis, narasumber membagikan dua metode utama pengolahan sisa dapur yang dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat di rumah: 

Pembuatan Eko-Enzim (Eco-Enzyme): Mengolah sisa kulit buah atau sayuran segar menggunakan rumus perbandingan 1:3:10 (1 bagian gula merah/molase, 3 bagian sisa dapur organik, dan 10 bagian air) yang difermentasi selama 3 bulan. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih alami hingga pemurni saluran air. 

Pengomposan Rumah Tangga: Mengolah sisa makanan matang menjadi tanah humus kaya nutrisi menggunakan wadah khusus bersirkulasi udara. 

Melalui siaran ini, Kemenag Kota Batam mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menjadi pahlawan lingkungan dengan menahan dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Acara diakhiri dengan pesan moral, bait pantun ajakan menjaga alam, serta doa Parama Santhi.